728 x 90

SASI LABEL DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN CFI INDONESIA MENJADI FOKUS DISKUSI DALAM STRATEGIC COMMUNICATION WORKSHOP IWC11

Bali, 18 Oktober 2026 — Praktik pemberdayaan perempuan melalui Sasi Label yang dikembangkan dalam proyek GEF-6 CFI Indonesia menjadi fokus diskusi dalam Pre-Conference Workshop 2B: Strategic Communication pada rangkaian 11th GEF International Waters Conference (IWC11) di Bali, Minggu (18/10). Workshop ini mempertemukan peserta dari berbagai proyek untuk berbagi pengalaman, merumuskan pesan strategis, dan mengidentifikasi peluang agar praktik baik yang dikembangkan di tingkat lokal dapat menjangkau audiens yang lebih luas.

Workshop Strategi Komunikasi IWC11 Bali, 18 Oktober 2026. Peserta termasuk perwakilan CFI Indonesia mengikuti Pre-Conference Workshop: Strategic Communications untuk memperkuat strategi komunikasi dan berbagi praktik baik pengelolaan lingkungan dan perairan berkelanjutan.

GEF-6 CFI Indonesia diwakili oleh Ahadar Tuhuteru selaku Knowledge Management, Monitoring and Evaluation (KMME) Specialist dan Faridatun Amalia Hasanah selaku Gender Specialist. Dalam kelompok diskusi yang mereka ikuti, tema “Women Empowerment through Sasi Label” dipilih sebagai fokus pembahasan untuk menggali bagaimana pendekatan pemberdayaan perempuan dapat dikomunikasikan sebagai praktik baik yang relevan bagi proyek-proyek lain.

Mengubah Pembelajaran Proyek Menjadi Pesan Strategis

Workshop yang berlangsung di Room Jimbaran ini menggunakan Strategic Message Framing Canvas sebagai alat bantu untuk menyusun pesan komunikasi secara terstruktur. Para peserta bekerja dalam kelompok untuk mengidentifikasi hasil yang ingin disampaikan, audiens prioritas, kepentingan audiens, alasan pentingnya isu yang dibahas, bukti pendukung, peluang pengembangan, serta tindakan yang diharapkan.

Dalam diskusi kelompok tersebut, Sasi Label diangkat sebagai contoh pendekatan yang menghubungkan kearifan lokal dalam pengelolaan perikanan dengan pemberdayaan perempuan dan penguatan penghidupan masyarakat pesisir.

Sasi Label dan Pemberdayaan Perempuan, Praktik Baik GEF-6 CFI Indonesia, Menjadi Tema Diskusi Kelompok dalam Workshop Strategi Komunikasi IWC11 di Bali. Diskusi mengangkat pengalaman Sasi Label sebagai pendekatan berbasis kearifan lokal untuk mendukung pengelolaan perikanan berkelanjutan dan memperkuat nilai tambah produk perikanan masyarakat pesisir.

Dari perspektif komunikasi dan manajemen pengetahuan, diskusi ini menekankan pentingnya mengemas pengalaman proyek menjadi pesan yang mudah dipahami, didukung bukti yang relevan, dan dapat memberikan pembelajaran bagi pemangku kepentingan lainnya.

“Strategic communication is important because it helps us translate project experiences into clear messages that different audiences can understand and learn from. Through this discussion, we explored how the Sasi Label experience can be communicated not only as a project activity, but also as a good practice that may inspire other initiatives.”-  Ahadar Tuhuteru, KMME Specialist, GEF-6 CFI Indonesia

Melalui proses tersebut, peserta juga membahas peluang untuk memperluas jangkauan praktik baik, menjangkau komunitas lain, membentuk kelompok baru, serta memperkuat dukungan terhadap inisiatif pemberdayaan perempuan. Pembahasan ini membantu mengidentifikasi bagaimana pengalaman yang dikembangkan di satu lokasi dapat menjadi sumber pembelajaran bagi inisiatif lain, dengan tetap mempertimbangkan konteks dan kebutuhan masing-masing komunitas.

Sasi Label: Menghubungkan Kearifan Lokal dan Pemberdayaan Perempuan

Dari perspektif gender, Sasi Label menjadi salah satu pendekatan yang diperkenalkan untuk menunjukkan bagaimana pengelolaan sumber daya berbasis kearifan lokal dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkuat peran perempuan dalam kegiatan ekonomi masyarakat pesisir.

Faridatun Amalia Hasanah, Gender Specialist GEF-6 CFI Indonesia, menjelaskan bahwa pemberdayaan perempuan perlu dilihat sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mendorong partisipasi bermakna, memperkuat kapasitas kelompok, dan membuka kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan usaha serta mengambil peran lebih besar di tingkat komunitas.

“Through the Sasi Label initiative, we aim to connect local wisdom and sustainable fisheries management with women’s empowerment and livelihood opportunities. We want women to have meaningful opportunities to participate in local economic activities, develop their businesses, and contribute to the sustainability of their communities. This experience also offers lessons that can be shared with other initiatives working to strengthen women’s participation in sustainable resource management.” Ujar Amalia

Dalam diskusi, peserta mengangkat sejumlah aspek yang dinilai penting untuk menyampaikan praktik pemberdayaan perempuan secara strategis, termasuk partisipasi perempuan, keberlanjutan penghidupan, pengembangan kapasitas, serta bukti yang menunjukkan manfaat pendekatan tersebut. Pembahasan juga menyoroti pentingnya memperluas kesempatan bagi kelompok perempuan untuk berbagi pengalaman dan menjadi bagian dari proses pembelajaran lintas komunitas.

Pertukaran Pembelajaran melalui Diskusi Bergilir

Salah satu bagian penting dari workshop adalah metode diskusi bergilir atau rolling group. Setelah mendiskusikan tema masing-masing, peserta berbagi hasil pembahasan dan mempresentasikan kesimpulan kepada kelompok lain.

Melalui metode ini, setiap kelompok memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan praktik baik yang dibahas, menerima perspektif dari peserta lain, serta mempelajari cara proyek-proyek berbeda membingkai pesan dan mengomunikasikan hasil kegiatannya.

Tema Women Empowerment through Sasi Label menjadi salah satu pembelajaran dari GEF-6 CFI Indonesia yang diperkenalkan dalam proses pertukaran tersebut. Diskusi tidak hanya berfokus pada kegiatan yang telah dilakukan, tetapi juga pada bagaimana pengalaman itu dapat dikomunikasikan agar relevan bagi audiens yang lebih luas.

Sesi foto bersama para peserta Workshop Communication Strategy dalam rangkaian kegiatan 11th Global Environment Facility (GEF) Biennial International Waters Conference (IWC11) di Bali, 18 Oktober 2026. Kegiatan ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan pembelajaran bagi para peserta dalam memperkuat strategi komunikasi, pertukaran pengetahuan, serta penyebarluasan praktik baik pengelolaan lingkungan dan perairan berkelanjutan.

Keterlibatan Ahadar dan Amalia mempertemukan perspektif komunikasi dan manajemen pengetahuan dengan pengarusutamaan gender. Kolaborasi ini menjadi penting untuk memastikan bahwa pembelajaran dari proyek dapat disampaikan secara terarah, sekaligus menampilkan pengalaman dan peran perempuan dalam proses pemberdayaan.

Melalui proses diskusi dan presentasi antarkelompok, peserta juga memperoleh kesempatan untuk membandingkan pendekatan, bertukar gagasan, dan mengidentifikasi peluang pengembangan praktik baik sesuai dengan konteks proyek masing-masing.

Memperluas Jangkauan Praktik Baik Pemberdayaan Perempuan

Partisipasi GEF-6 CFI Indonesia dalam Strategic Communication Workshop menjadi bagian dari upaya memperluas pembelajaran dari program pemberdayaan perempuan dan pengelolaan perikanan berkelanjutan. Melalui Sasi Label, pengalaman yang berkembang di tingkat komunitas dapat diperkenalkan sebagai pendekatan yang menghubungkan kearifan lokal, partisipasi perempuan, dan penguatan penghidupan masyarakat pesisir.

Proses perumusan pesan strategis juga membantu mengidentifikasi peluang untuk menjangkau komunitas lain, memperluas replikasi praktik baik, dan membangun dukungan yang dapat memperkuat keberlanjutan inisiatif pemberdayaan perempuan.

Workshop ini menunjukkan bahwa komunikasi strategis memiliki peran penting dalam memastikan pembelajaran proyek tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan. Dengan pesan yang terarah, bukti yang relevan, dan ruang pertukaran pengetahuan, pengalaman dari tingkat lokal dapat menjadi bahan pembelajaran yang bermanfaat bagi proyek-proyek lain.

Melalui partisipasi dalam IWC11, GEF-6 CFI Indonesia terus membawa pembelajaran mengenai pemberdayaan perempuan dan pengelolaan perikanan berbasis kearifan lokal ke ruang pertukaran internasional, sekaligus memperkuat upaya agar praktik baik yang telah dikembangkan dapat dipahami, dibagikan, dan berpotensi diadaptasi di konteks lain.

0 COMMENTS

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

0 Comments