728 x 90

SASI CO-MANAGEMENT GEF-6 CFI INDONESIA RAIH PENGHARGAAN POSTER TERBAIK IWC11 BALI 2026, ANGKAT KEARIFAN LOKAL INDONESIA TIMUR KE PANGGUNG DUNIA

BALI, 22 OKTOBER 2026 – Kearifan lokal masyarakat pesisir Indonesia Timur dalam menjaga sumber daya laut mendapat pengakuan internasional. Poster “Sasi Co-Management: From Indigenous Customary Law to a Co-Management Model for Coastal Governance” yang diusung GEF-6 CFI Indonesia berhasil meraih penghargaan poster terbaik dalam forum 11th Global Environment Facility (GEF) Biennial International Waters Conference (IWC11), yang berlangsung di Bali, 19–22 Oktober 2026.

Poster Sasi Co-Management GEF-6 CFI Indonesia Raih Penghargaan Terbaik di IWC11 Bali 2026. Poster “Sasi Co-Management: From Indigenous Customary Law to a Co-Management Model for Coastal Governance” berhasil meraih penghargaan poster terbaik pada 11th Global Environment Facility (GEF) Biennial International Waters Conference (IWC11) di Bali, 19–22 Oktober 2026. Penghargaan ini mengangkat kearifan lokal masyarakat Indonesia Timur sebagai pembelajaran pengelolaan pesisir dan laut yang berkelanjutan di tingkat internasional.

Penghargaan tersebut ditandai dengan penyerahan plakat secara langsung oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, kepada perwakilan GEF-6 CFI Indonesia pada penutupan IWC11, 22 Oktober 2026. Sebelumnya, poster tersebut terpilih sebagai satu dari tujuh nominasi terbaik dari karya yang berasal dari 54 negara, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai pemenang melalui pemungutan suara dan penilaian akhir juri.

Capaian ini menjadi semakin bermakna karena pada pembukaan IWC11, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., turut menyoroti pendekatan Sasi Co-Management yang menghubungkan kearifan lokal, keberlanjutan perikanan, dan peluang ekonomi masyarakat pesisir. Sambutan tersebut memperkuat relevansi pembelajaran GEF-6 CFI Indonesia dalam mendorong pengelolaan sumber daya laut yang menjaga ekosistem sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.

Sasi Co-Management: Kearifan Lokal untuk Pengelolaan Laut Berkelanjutan

Sasi merupakan praktik kearifan lokal yang dikenal di Maluku dan Papua untuk mengatur pemanfaatan sumber daya alam berdasarkan aturan dan kesepakatan adat. Melalui Sasi Co-Management, GEF-6 CFI Indonesia mendorong keterhubungan antara kelembagaan adat, masyarakat, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam pengelolaan pesisir dan perikanan berkelanjutan.

Project Manager GEF-6 CFI Indonesia bersama Enam Perwakilan Negara Lain terpilih Memaparkan Praktik Terbaik pada Forum IWC11. Dalam forum 11th Global Environment Facility (GEF) Biennial International Waters Conference (IWC11) di Bali, Project Manager PMU GEF-6 CFI Indonesia, Dr. Adipati Rahmat, bersama enam perwakilan lainnya mempresentasikan praktik terbaik pengelolaan lingkungan dan perairan. GEF-6 CFI Indonesia menampilkan pendekatan Sasi Co-Management, yang mengintegrasikan kearifan lokal masyarakat dengan tata kelola pesisir kolaboratif untuk mendukung pengelolaan perikanan berkelanjutan dan konservasi laut.

Pendekatan ini memperkuat peran masyarakat dalam menjaga wilayah kelola, mengawasi pemanfaatan sumber daya, serta mendukung konservasi melalui penguatan kelembagaan, pemetaan wilayah, dan pemanfaatan teknologi sesuai kebutuhan. Upaya peningkatan mutu produk, ketertelusuran, identitas produk, dan akses pasar juga menjadi bagian dari pendekatan yang menghubungkan kelestarian sumber daya dengan kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian, Sasi Co-Management tidak sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga menunjukkan bagaimana kearifan lokal dapat menjadi bagian dari tata kelola pesisir yang kolaboratif dan adaptif.

Project Manager: Pengakuan atas Pembelajaran yang Berpotensi Direplikasi

Project Manager PMU GEF-6 CFI Indonesia, Dr. Adipati Rahmat, menegaskan bahwa penghargaan tersebut bukan semata-mata pengakuan terhadap sebuah karya visual, melainkan juga terhadap pembelajaran yang dikembangkan bersama masyarakat.

“Penghargaan GEF pada IWC11 atas poster GEF-6 CFI Indonesia bukan semata-mata penghargaan terhadap sebuah karya visual, melainkan pengakuan tim juri terhadap Sasi Co-Management sebagai salah satu pembelajaran terbaik CFI Indonesia yang berpotensi direplikasi di negara lain,” ungkapnya.

Project Manager PMU GEF-6 CFI Indonesia, Dr. Adipati Rahmat, mempresentasikan praktik baik Sasi Co-Management dalam forum 11th Global Environment Facility (GEF) Biennial International Waters Conference (IWC11) di Bali, 21 Oktober 2026. Presentasi ini mengangkat kearifan lokal masyarakat Indonesia Timur sebagai pendekatan kolaboratif dalam tata kelola pesisir dan laut, yang mengintegrasikan aturan adat dengan pengelolaan perikanan berkelanjutan serta upaya konservasi laut.

Menurutnya, penghargaan ini menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa konservasi laut dapat diperkuat melalui integrasi pengetahuan lokal, kelembagaan adat, kebijakan pemerintah, dan pengelolaan perikanan berkelanjutan. Pengalaman tersebut dapat menjadi referensi bagi wilayah lain, dengan tetap mempertimbangkan kondisi sosial, budaya, ekologi, dan kebijakan setempat.

Mendukung Konservasi dan Keberlanjutan Perikanan

GEF-6 CFI Indonesia mendukung penerapan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) atau pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 715, 717, dan 718. Pendekatan ini memperhatikan keberlanjutan stok ikan, kesehatan ekosistem, tata kelola, dan mata pencaharian masyarakat pesisir.

Di Maluku dan Papua, pembelajaran Sasi Co-Management juga berkaitan dengan identifikasi potensi wilayah konservasi dan penguatan pengelolaan berbasis masyarakat. Poster tersebut mencatat potensi kawasan di Pulau Buru seluas sekitar 57.594 hektare, Buru Selatan 51.115 hektare, dan Seram Bagian Timur 189.875 hektare. Angka ini merupakan luasan potensi yang diidentifikasi dan tidak berarti seluruh wilayah telah ditetapkan secara resmi sebagai kawasan konservasi.

Poster tersebut juga menyoroti potensi pengelolaan konservasi berbasis masyarakat di perairan Seram Bagian Timur (Gorom dan Amarsekaru) dan seluas sekitar 4.777,29 hektare dan perairan Kabupaten Maluku Tenggara (Werka, Watuar, Ohoirenan, Ohoiwait, Watkidat, Waduar Fer) sekitar 1.334 hektare. Pengembangan inisiatif tersebut memerlukan koordinasi, penguatan kelembagaan, dan proses sesuai ketentuan yang berlaku.

Knowledge Management dan M&E: Memperluas Pembelajaran ke Tingkat Global

Ahadar Tuhuteru, Knowledge Management dan Monitoring & Evaluation Specialist PMU GEF-6 CFI Indonesia, menilai penghargaan tersebut menunjukkan pentingnya mendokumentasikan dan mengomunikasikan pembelajaran dari tingkat lokal agar dapat dipahami oleh komunitas internasional.

Knowledge Management dan Monitoring & Evaluation Specialist PMU GEF-6 CFI Indonesia, Ahadar Tuhuteru, menghadiri 11th Global Environment Facility (GEF) Biennial International Waters Conference (IWC11) di Bali. Dalam kesempatan tersebut, Ahadar turut menerima plakat penghargaan atas keberhasilan poster Sasi Co-Management sebagai poster terbaik, yang mengangkat kearifan lokal masyarakat Indonesia Timur sebagai praktik baik dalam tata kelola pesisir dan laut berkelanjutan di tingkat internasional.

Melalui komunikasi berbasis bukti, pengalaman masyarakat dapat menjadi bahan pertukaran pengetahuan bagi pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan. Pembelajaran Sasi Co-Management memperlihatkan bahwa solusi bagi tantangan lingkungan global dapat berangkat dari praktik yang telah hidup di masyarakat, kemudian diperkuat melalui pendekatan ilmiah, kebijakan, dan kolaborasi.

Penghargaan IWC11 sekaligus menjadi dorongan untuk menjaga keberlanjutan hasil program setelah periode pelaksanaan GEF-6 CFI Indonesia berakhir pada akhir 2026. Penguatan kelembagaan masyarakat, dukungan pemerintah, serta kemitraan antarpihak menjadi faktor penting agar pembelajaran tersebut terus memberikan manfaat.

Penghargaan poster terbaik IWC11 Bali 2026 bukan hanya capaian bagi GEF-6 CFI Indonesia, tetapi juga pengakuan terhadap masyarakat yang menjaga dan mengembangkan kearifan lokal. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal Indonesia Timur memiliki potensi untuk berkontribusi pada pengelolaan perikanan dan konservasi laut yang berkelanjutan, sekaligus menjadi inspirasi bagi upaya serupa di berbagai wilayah dunia.

Tentang GEF-6 CFI Indonesia

GEF-6 CFI Indonesia mendukung penerapan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di WPPNRI 715, 717, dan 718 melalui penguatan tata kelola perikanan, kapasitas masyarakat, pengelolaan ekosistem, serta pengembangan dan pertukaran pengetahuan.

Informasi lebih lanjut: https://cfi-indonesia.id/

 

0 COMMENTS

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

0 Comments