728 x 90

JEEN WOMOM PERKUAT LANGKAH MENUJU PERIKANAN BERKELANJUTAN, KKP DAN MITRA LAKSANAKAN STUDI DASAR EAFM DI TAMBRAUW

Tambrauw, Papua Barat Daya – Kawasan Taman Pesisir Jeen Womom di Kabupaten Tambrauw kembali menegaskan perannya sebagai salah satu benteng penting konservasi dan pengelolaan sumber daya pesisir di Indonesia Timur. Melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan masyarakat adat, upaya mewujudkan tata kelola perikanan yang berkelanjutan terus diperkuat melalui pelaksanaan Baseline Study Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) yang berlangsung pada 7–19 Juni 2026.

Pelaksanaan Baseline Study Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) KKP melibatkan Universitas Papua (UNIPA), PIONER Tanah Papua, dan Yayasan WWF Indonesia Program Papua difasilitasi melalui pendanaan hibah GEF 6 CFI Indonesia,  7–19 Juni 2026

Kegiatan yang difasilitasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Universitas Papua (UNIPA), PIONER Tanah Papua, dan Yayasan WWF Indonesia Program Papua ini mencakup tiga kampung sasaran, yaitu Resye, Womom, dan Syukwo. Pelaksanaannya didukung melalui Program GEF-6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia, hasil kerja sama KKP dan WWF-US sebagai GEF Agency.

Studi dasar EAFM ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat pengelolaan perikanan berbasis ekosistem di kawasan Taman Pesisir Jeen Womom. Tidak hanya berfokus pada sumber daya ikan, pendekatan EAFM juga mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi, kelembagaan, habitat, dan teknologi penangkapan sebagai satu kesatuan yang saling terkait dalam mendukung keberlanjutan sumber daya pesisir dan laut.

Melalui penyusunan data dasar, konsultasi multipihak, dan berbagai kegiatan lapangan, kajian ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi strategis yang menjadi fondasi bagi penguatan tata kelola perikanan yang selaras dengan prinsip keberlanjutan, ekonomi biru (Blue Economy), serta pengakuan terhadap hak dan peran masyarakat adat dalam pengelolaan sumber daya alam.

Masyarakat Adat Menjadi Mitra Utama

Salah satu kekuatan utama dalam pelaksanaan studi ini adalah keterlibatan aktif masyarakat adat sejak tahap awal. Sebelum pengumpulan data dilakukan, tim peneliti melaksanakan proses Free, Prior and Informed Consent (FPIC) di ketiga kampung sasaran. Proses ini memastikan bahwa masyarakat memperoleh informasi yang lengkap mengenai tujuan dan manfaat kegiatan serta memberikan persetujuan secara sukarela.

Tahapan Pemetaan Wilayah di lokasi Baseline Study Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM), di Kampung Resye, Womom, dan Syukwo,  7–19 Juni 2026

Hasilnya, masyarakat adat di Kampung Resye, Womom, dan Syukwo menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kajian di wilayah adat mereka. Kesepakatan tersebut bahkan dituangkan dalam berita acara yang disetujui oleh seluruh pihak terkait.

Kepala Kampung Resye, Demianus Yesnath, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan kajian tersebut. Menurutnya, informasi yang dihasilkan dari penelitian ini akan sangat penting untuk mendukung pengambilan keputusan terkait pengelolaan sumber daya pesisir dan laut di masa depan.

“Masyarakat diharapkan dapat bekerja sama dengan tim peneliti dalam memberikan informasi yang dibutuhkan. Kami berharap data yang diperoleh dapat diolah dengan baik dan menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan,” ujarnya.

Tidak hanya menjadi responden, masyarakat juga dilibatkan secara langsung dalam proses pengumpulan data. Setiap kampung menunjuk dua orang perwakilan untuk mendampingi tim peneliti selama kegiatan berlangsung. Salah satu pendamping dari masing-masing kampung bahkan memperoleh pelatihan khusus terkait teknik pengumpulan data perikanan, termasuk pengukuran panjang dan berat ikan sesuai standar ilmiah.

Bagi masyarakat, keterlibatan tersebut tidak hanya memberikan pengalaman baru tetapi juga meningkatkan kapasitas mereka dalam memahami kondisi sumber daya perikanan yang menjadi tumpuan hidup sehari-hari.

Mengumpulkan Data untuk Masa Depan Laut yang Lebih Baik

Dalam pelaksanaannya, studi dasar EAFM mengumpulkan berbagai data primer yang mencakup enam domain utama, yaitu aspek sosial, ekonomi, kelembagaan, sumber daya ikan, habitat, dan teknologi penangkapan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan masyarakat dan pelaku perikanan, serta pemetaan partisipatif bersama nelayan untuk mengidentifikasi wilayah penangkapan ikan, jenis hasil tangkapan, dan pola pemanfaatan ruang laut.

Tahapan Pengumpulan data Sumberdaya Ikan Baseline Study Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM), di Kampung Resye, Womom, dan Syukwo,  7–19 Juni 2026

Selain itu, tim peneliti juga melakukan survei ekologi pada sejumlah titik pengamatan untuk mendokumentasikan kondisi ikan karang, biota dasar perairan, terumbu karang, mangrove, lamun, serta kualitas perairan. Data tersebut akan menjadi dasar penting dalam menilai kesehatan ekosistem pesisir sekaligus menyusun langkah-langkah pengelolaan yang lebih efektif dan adaptif.

Hasil kajian nantinya akan disampaikan kepada pemerintah daerah, masyarakat adat, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan pengelolaan perikanan dan kawasan pesisir yang lebih inklusif, partisipatif, dan berkelanjutan.

Tambrauw, Contoh Pengelolaan Perikanan Berbasis Ekosistem

Akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Papua, Prof. Dr. Roni Bawole, menilai Kabupaten Tambrauw memiliki posisi yang sangat strategis sebagai laboratorium hidup penerapan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) di kawasan Indo-Pasifik.

Menurutnya, Tambrauw memiliki kekuatan yang jarang dimiliki daerah lain, yaitu perpaduan antara kondisi ekologi laut yang masih relatif terjaga dan praktik pengelolaan sumber daya berbasis kearifan lokal yang masih hidup dan dijalankan oleh masyarakat adat.

Ia menjelaskan bahwa praktik Traditional Ecological Knowledge (TEK) dan tradisi sasi telah menjadi instrumen penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya pesisir selama bertahun-tahun. Di tengah berbagai tantangan global seperti perubahan iklim, degradasi ekosistem pesisir, dan tekanan terhadap stok perikanan, model pengelolaan yang berkembang di Tambrauw menunjukkan bahwa konservasi dan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan.

“Keberlanjutan perikanan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dan ilmu pengetahuan modern, tetapi juga oleh partisipasi masyarakat, penguatan kelembagaan lokal, perlindungan spesies kunci, serta sinergi antara pemerintah, masyarakat adat, dan berbagai pemangku kepentingan,” jelasnya.

Tahapan Pengumpulan data Ekosistem dan Biota Penting Baseline Study Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM), di Kampung Resye, Womom, dan Syukwo,  7–19 Juni 2026

Dukungan GEF-6 CFI Indonesia

Project Manager GEF-6 CFI Indonesia, Adipati Rahmat, menyampaikan bahwa kegiatan ini sejalan dengan mandat program untuk mendorong penerapan EAFM sebagai pendekatan utama dalam mewujudkan pengelolaan perikanan pesisir yang efektif, terintegrasi, dan berkelanjutan di Indonesia.

Menurutnya, studi dasar EAFM di Jeen Womom merupakan bagian dari upaya memperkuat pengelolaan kawasan konservasi sekaligus meningkatkan efektivitas tata kelola sumber daya pesisir dan laut.

“Kegiatan ini kami fasilitasi untuk mendukung perbaikan pengelolaan kawasan konservasi Taman Pesisir Jeen Womom dengan fokus pada penguatan berbagai komponen penilaian efektivitas pengelolaan kawasan. Pada akhirnya, tujuan yang ingin dicapai adalah menjaga kelestarian ekosistem laut sekaligus meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir,” ujarnya.

Melalui studi dasar ini, para pihak berharap Jeen Womom dapat menjadi contoh praktik baik pengelolaan perikanan berbasis ekosistem di Indonesia. Dengan dukungan data ilmiah yang kuat, partisipasi aktif masyarakat adat, serta kolaborasi berbagai pihak, kawasan ini diharapkan mampu menunjukkan bahwa perlindungan ekosistem laut dan peningkatan kesejahteraan masyarakat bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan dapat dicapai secara bersamaan melalui tata kelola yang baik dan berkelanjutan.

 

0 COMMENTS

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

0 Comments