728 x 90

GEF-6 CFI INDONESIA PERKUAT KAPASITAS MASYARAKAT MELALUI PENGEMBANGAN SKEMA PES DAN WISATA BERKELANJUTAN UNTUK MENDUKUNG KONSERVASI EKOSISTEM PESISIR

Jakarta, 17 Juli 2026 – GEF-6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia terus memperkuat upaya konservasi berbasis masyarakat melalui pelatihan strategis, yaitu Payment for Ecosystem Services (PES) sebagai bentuk Pengelolaan Wisata Berkelanjutan. Kedua pelatihan tersebut dipersiapkan melalui Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan para peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan sebagai bagian dari penguatan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan mekanisme pembiayaan konservasi serta usaha ekonomi berbasis ekosistem pesisir dan laut.

Materi-materi pelatihan telah disusun secara terpadu untuk memberikan pemahaman bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada perlindungan sumber daya alam, tetapi juga pada tersedianya insentif ekonomi yang mendorong masyarakat menjadi pelaku utama dalam menjaga ekosistem. Melalui pendekatan ini, konservasi diharapkan mampu berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Focus Group Discussion (FGD) bersama BRIN, para peneliti, praktisi, dan pemangku kepentingan dalam rangka mempersiapkan Pelatihan Skema Pembayaran Jasa Ekosistem (Payment for Ecosystem Services/PES) untuk Konservasi Pesisir Berkelanjutan di Kabupaten Maluku Tenggara. Kegiatan yang difasilitasi melalui pendanaan hibah GEF-6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan mekanisme pembiayaan konservasi serta mendorong usaha ekonomi berbasis ekosistem pesisir dan laut. (17/7)

Pada penyusunan materi PES, peserta FGD membahas pentingnya valuasi ekonomi jasa ekosistem sebagai dasar dalam membangun mekanisme insentif konservasi. Ekosistem pesisir seperti terumbu karang, lamun, dan mangrove menyediakan berbagai manfaat penting, mulai dari menjaga stok ikan, melindungi garis pantai, hingga menopang mata pencaharian masyarakat. Namun, sebagian besar manfaat tersebut belum memiliki nilai ekonomi yang tercermin dalam mekanisme pasar. Oleh karena itu, pendekatan valuasi ekonomi diperlukan untuk mendukung penyusunan kebijakan berbasis bukti sekaligus membuka peluang pembiayaan konservasi yang berkelanjutan.

Sebagai studi kasus, FGD mengangkat Pulau Ur, Kabupaten Maluku Tenggara, yang memiliki potensi besar untuk penerapan skema PES. Kawasan ini memiliki kekayaan jasa ekosistem berupa perikanan tangkap, terumbu karang, padang lamun, mangrove, budidaya rumput laut, hingga habitat pemijahan berbagai jenis ikan. Melalui pelatihan yang dirancang selama dua hari, peserta nantinya akan mempelajari konsep dasar jasa ekosistem, metode valuasi ekonomi, desain kelembagaan, mekanisme pembayaran, hingga penyusunan rancangan skema PES yang sesuai dengan kondisi lokal.

Sementara itu, penyusunan materi Pelatihan Pengelolaan Wisata Berkelanjutan diarahkan untuk memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengembangkan ekowisata yang tetap menjaga fungsi ekologis kawasan. Materi pelatihan mencakup konsep pariwisata berkelanjutan, pengembangan usaha wisata, penyusunan paket wisata, pengelolaan keuangan sederhana, hingga praktik penyelaman ramah lingkungan.

Selain memperkuat aspek kewirausahaan, pelatihan ini juga menanamkan pemahaman bahwa pariwisata berkelanjutan merupakan sistem pengelolaan yang mengintegrasikan konservasi lingkungan, kesejahteraan masyarakat, keberlanjutan ekonomi, dan tata kelola yang baik. Peserta juga akan diajak mengidentifikasi potensi wisata pada ekosistem lamun dan terumbu karang serta menyusun rencana pengembangan destinasi yang tetap mengedepankan prinsip-prinsip konservasi.

Husen Rifai, M.Biol.Sc., Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang terlibat sebagai penyusun materi pelatihan, menyampaikan bahwa penguatan kapasitas masyarakat perlu dibangun melalui pemahaman yang utuh mengenai hubungan antara nilai ekologi dan nilai ekonomi ekosistem.

"Konservasi akan lebih berkelanjutan apabila masyarakat memahami bahwa ekosistem yang sehat memiliki nilai ekonomi yang nyata. Melalui pelatihan PES dan wisata berkelanjutan, kami ingin memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya pesisir secara bertanggung jawab sekaligus menciptakan peluang ekonomi yang tetap menjaga kelestarian alam untuk generasi mendatang," ujar Husen.

Project Manager GEF-6 CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menyampaikan bahwa kedua pelatihan tersebut merupakan bagian dari strategi proyek dalam memperkuat tata kelola perikanan berbasis ekosistem sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

"GEF-6 CFI Indonesia tidak hanya berfokus pada upaya konservasi, tetapi juga memastikan bahwa masyarakat memperoleh manfaat nyata dari ekosistem yang mereka jaga. Skema Payment for Ecosystem Services dan pengembangan wisata berkelanjutan merupakan dua instrumen penting untuk membangun pembiayaan konservasi yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi lokal. Kami berharap materi pelatihan ini dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah dan masyarakat dalam mengembangkan model pengelolaan kawasan pesisir yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan," ungkap Adipati.

0 COMMENTS

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

0 Comments