Selama tiga hari di Kantor UNESCO Paris, Indonesia membagikan praktik baik GEF-6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia, memperkenalkan Electronic Logbook berbasis Artificial Intelligence (AI), serta dipercaya memoderatori penyusunan rekomendasi global untuk memperkuat pengelolaan data, informasi, dan pengetahuan pada jaringan Large Marine Ecosystems (LME).
Paris, Prancis, 9 Juli 2026 – Indonesia kembali menunjukkan kepemimpinannya dalam transformasi tata kelola kelautan global melalui partisipasi aktif pada 25th Annual Consultation Meeting on Large Marine Ecosystems (LME25) dan 2nd Data and Information Management (DIM) Workshop yang berlangsung di Kantor UNESCO, Paris, Prancis, pada 7–9 Juli 2026.
Melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama GEF-6 Coastal Fisheries Initiative (CFI) Indonesia, Indonesia berkontribusi dalam pembahasan penguatan pengelolaan Large Marine Ecosystems (LME), transformasi sistem data kelautan, serta pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti ilmiah (evidence-based decision making).
ok.jpeg)
Foto bersama seluruh peserta 25th Large Marine Ecosystem Conference (LME25) yang diselenggarakan di UNESCO Headquarters, Paris, Prancis, sebagai simbol komitmen bersama dalam memperkuat kolaborasi internasional untuk pengelolaan Large Marine Ecosystems (LMEs) dan GEF International Waters.
Forum yang diselenggarakan oleh IW:LEARN, Global Environment Facility (GEF), UNESCO-IOC, FAO, UNDP, dan UNEP tersebut mempertemukan pemerintah, organisasi internasional, lembaga penelitian, Regional Fisheries Management Organizations (RFMOs), Regional Seas Programmes (RSPs), akademisi, serta pengelola proyek kelautan dari berbagai negara. Pertemuan ini menjadi ruang strategis untuk berbagi praktik baik, memperkuat kolaborasi internasional, serta merumuskan rekomendasi bersama guna mendukung pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 14 – Life Below Water.
Salah satu sesi yang mendapat perhatian besar adalah presentasi Indonesia mengenai Electronic Logbook Version 3 berbasis Artificial Intelligence (AI). Inovasi yang dikembangkan melalui GEF-6 CFI Indonesia tersebut dirancang untuk mempercepat validasi data, meningkatkan akurasi identifikasi spesies ikan, serta mendukung analisis stok ikan secara lebih efisien.
.jpeg)
Perwakilan Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan, Dodiet Rachmadi Slamet, mempresentasikan pengembangan Electronic Logbook (E-Logbook) berbasis Artificial Intelligence (AI) sebagai salah satu praktik baik Indonesia pada 25th Annual Consultative Meeting on Large Marine Ecosystems (LME25) di Paris, Prancis. Inovasi ini mendukung implementasi Penangkapan Ikan Terukur (PIT) berbasis kuota melalui penguatan sistem pendataan perikanan yang lebih akurat, efisien, dan berbasis ilmu pengetahuan.
Perwakilan KKP sekaligus Technical Coordinator PMU GEF-6 CFI Indonesia, Dodiet Rachmadi Slamet, menjelaskan bahwa AI dikembangkan sebagai alat bantu untuk mempercepat analisis data, bukan menggantikan peran manusia.
"Artificial Intelligence bukan untuk menggantikan manusia, tetapi membantu kita mengolah jutaan data perikanan secara lebih cepat. Dengan dukungan AI, proses verifikasi dan analisis data menjadi lebih efisien sehingga kebijakan pengelolaan perikanan dapat disusun berdasarkan data yang lebih akurat," ujar Dodiet.
Menurutnya, Indonesia memiliki lebih dari 500 ribu kapal penangkap ikan skala kecil yang menghasilkan volume data sangat besar. Melalui pendekatan machine learning, sistem AI dilatih menggunakan ribuan citra berbagai spesies ikan sehingga mampu meningkatkan akurasi identifikasi dan mempercepat penyusunan rekomendasi ilmiah.
Presentasi tersebut mendapat apresiasi luas dari para peserta. Delegasi dari berbagai negara dan organisasi internasional menilai pengembangan Electronic Logbook berbasis AI sebagai salah satu praktik baik yang berpotensi direplikasi untuk memperkuat sistem pendataan perikanan, meningkatkan kualitas analisis stok ikan, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti ilmiah.
.jpeg)
Sesi diskusi "AI Tools in Support of Data and Information Management (DIM)" yang membahas pemanfaatan AI dan transformasi digital untuk memperkuat sistem Data and Information Management (DIM) pada portofolio GEF International Waters.
Selain inovasi digital, berbagai capaian GEF-6 CFI Indonesia dalam memperkuat pengelolaan perikanan berbasis ekosistem juga mendapat perhatian. Program penguatan tata kelola perikanan, pengembangan SASI Label, pemberdayaan masyarakat pesisir, peningkatan kapasitas perempuan, hingga kolaborasi multipihak antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan sektor swasta dinilai menunjukkan bagaimana investasi GEF mampu menghasilkan perubahan kelembagaan yang berkelanjutan.
Indonesia juga berbagi pengalaman mengenai strategi menjaga keberlanjutan program melalui penguatan kelembagaan pemerintah daerah, pengembangan mekanisme Payment for Ecosystem Services (PES), kemitraan dengan sektor swasta, perluasan akses pasar bagi UMKM perempuan pesisir, serta pengembangan Local Champions.
Dalam DIM Workshop, Indonesia turut menyampaikan berbagai rekomendasi strategis untuk memperkuat pengelolaan data kelautan global, mulai dari pembangunan platform data LME yang terintegrasi, harmonisasi sistem pelaporan internasional, pemanfaatan Artificial Intelligence, hingga pengembangan LME Portfolio Dashboard sebagai sistem informasi bersama bagi seluruh proyek LME.
.jpeg)
Pelaksanaan Break-out Session pada 2nd Data and Information Management (DIM) Workshop yang membahas penguatan sistem Data and Information Management (DIM) pada tingkat portofolio GEF International Waters (IW), meliputi prioritas data dan pelaporan, pengembangan dashboard, indikator kinerja, keberlanjutan sistem, serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung pengelolaan dan pelaporan data. Project Manager PMU GEF-6 CFI Indonesia, Adipati Rahmat, dipercaya memoderatori salah satu Break-out Session.
Kepercayaan internasional terhadap Indonesia semakin terlihat ketika Project Manager PMU GEF-6 CFI Indonesia, Adipati Rahmat, dipercaya memoderatori sesi penutup bertajuk "Recommendations to Improve Data, Information and Knowledge Management (DIM) at the Portfolio Level." Sesi tersebut mempertemukan berbagai proyek LME, organisasi internasional, dan mitra pembangunan untuk menyusun rekomendasi penguatan pengelolaan data, informasi, dan pengetahuan pada tingkat portofolio global.
Di bawah moderasi Indonesia, para peserta menyepakati sejumlah rekomendasi penting, antara lain penguatan kepemilikan nasional terhadap sistem data, pembangunan mekanisme pembiayaan jangka panjang, peningkatan kualitas data, pemanfaatan AI, pengembangan LME Portfolio Dashboard, serta perluasan kolaborasi antarnegara guna memastikan keberlanjutan sistem informasi kelautan global.
Menurut Adipati Rahmat, pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa transformasi tata kelola kelautan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kualitas data, kelembagaan yang kuat, serta kolaborasi multipihak.
"Pengalaman GEF-6 CFI Indonesia menunjukkan bahwa data merupakan fondasi utama pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan. Ketika pemerintah, lembaga riset, masyarakat, dan mitra pembangunan bekerja bersama membangun sistem data yang kuat, kebijakan yang dihasilkan akan semakin akurat, transparan, dan mampu menjawab tantangan pengelolaan perikanan di masa depan," kata Adipati.
Ia menambahkan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada Indonesia untuk memoderatori sesi penyusunan rekomendasi global, serta apresiasi terhadap berbagai inovasi yang dipresentasikan, menunjukkan semakin besarnya pengakuan dunia terhadap kontribusi Indonesia dalam penguatan tata kelola laut berbasis ilmu pengetahuan, inovasi digital, dan kolaborasi.
Forum LME25 juga menjadi momentum menuju 11th GEF Biennial International Waters Conference (IWC11) yang akan diselenggarakan di Bali pada November 2026, ketika Indonesia menjadi tuan rumah bagi ratusan pemimpin, ilmuwan, dan praktisi pengelolaan sumber daya perairan dari berbagai negara.
Keikutsertaan Indonesia pada LME25 menegaskan bahwa Indonesia tidak lagi hanya menjadi penerima praktik terbaik global, tetapi mulai tampil sebagai knowledge provider dalam pengelolaan perikanan dan ekosistem laut berkelanjutan. Pengalaman GEF-6 CFI Indonesia menunjukkan bahwa kepemimpinan nasional yang didukung inovasi teknologi, kolaborasi multipihak, dan investasi jangka panjang mampu menghasilkan perubahan kelembagaan yang memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya laut, kesejahteraan masyarakat pesisir, serta menjadi inspirasi bagi pengelolaan kelautan di tingkat global.
0 COMMENTS